•   Minggu, 04 Oktober 2026
Transformasi Media Aceh - Sumatera
ad-banner

Kekerasan Mengancam Masa Depan Anak

ILUSTRASI. Kampanye Stop Kekerasan terhadap Anak.

Trauma yang tidak diatasi dengan baik dapat memicu proses peniruan perilaku kekerasan dalam kehidupan mereka.

Kekerasan terhadap anak, termasuk meluasnya hal-hal seksual, merupakan ancaman serius bagi perkembangan mereka. Ironisnya, pelaku kekerasan sering kali adalah orang-orang terdekat seperti orang tua, kerabat, atau pengasuh. Fenomena ini menimbulkan trauma yang dapat mengganggu perkembangan anak dalam jangka panjang.

Di Aceh, data dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak menunjukkan peningkatan signifikan dalam kasus kekerasan terhadap anak setiap tahunnya. Pelaku kekerasan umumnya adalah individu yang dikenal dan dekat dengan korban, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.

Perspektif Psikologis, Dampak Kekerasan Terhadap Anak

Menurut Harri Santoso, Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kekerasan terhadap anak dapat menghambat tumbuh kembang mereka secara serius. 

“Anak-anak yang menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun psikologis, cenderung mengalami ketakutan, rasa tidak aman, dan berbagai gangguan emosional lainnya,” jelas Harri, Rabu, (17/4/2024).

Dampaknya, anak-anak tersebut seringkali menunjukkan penurunan semangat belajar, hilangnya konsentrasi, serta melemahnya mental dan emosional. 

“Jika pengalaman traumatis ini tersimpan dalam ingatan mereka, besar kemungkinan mereka akan meniru perilaku kekerasan tersebut di masa depan,” tambahnya. 

Harri juga menekankan bahwa tanpa penanganan yang tepat, anak-anak korban kekerasan dapat mengalami stres berat dan kehilangan kepercayaan diri, yang pada akhirnya mempengaruhi proses belajar dan kehidupan sehari-hari mereka. 

Harri Santoso, dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. (Foto/Ist)

“Jika tidak ditangani dengan baik, anak dapat mengalami stres berat dan kehilangan kepercayaan diri, yang berdampak pada mempengaruhi proses belajar dan kehidupan sehari-hari mereka,” tutur Harri.

Siklus Kekerasan: Dari Korban Menjadi Pelaku

Anak-anak yang mengalami kekerasan sering kali menyimpan pengalaman traumatis ini dalam ingatan mereka. 

“Pada suatu waktu, mereka mungkin mencoba membalas dendam dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain yang mereka anggap secara mental dan fisik lebih lemah dari mereka,” jelas Harri.

Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya intervensi dini dan tepat dalam menangani korban kekerasan agar tidak berkembang menjadi pelaku kekerasan di masa depan. 

“Trauma yang tidak diatasi dengan baik dapat memicu proses peniruan perilaku kekerasan dalam kehidupan mereka,” tambahnya.

Menurutnya, program-program intervensi psikologis dan sosial sangat penting untuk membantu korban kekerasan pulih dari trauma mereka. Pendampingan yang berkelanjutan dan memberikan rasa aman kepada korban merupakan langkah penting dalam proses pemulihan.

Peran Keluarga Menyakitkan Kekerasan 

Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Aceh, Meutia Juliana, menekankan pentingnya peran keluarga dalam melindungi anak dari kekerasan. Ia menggarisbawahi bahwa ayah memiliki peran penting dalam mendidik dan melindungi anak-anak dari kekerasan.

“Komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak adalah kunci dalam mencegah dan mendeteksi kekerasan,” ujar Meutia. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh, Meutia Juliana. (Foto/Ist)

Menurut Meutia, ketidakterbukaan anak sering menjadi penghalang utama dalam mengungkap kasus kekerasan. Oleh karena itu, ia mengimbau agar orang tua menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka bagi anak-anak untuk berbicara tentang apa yang alami mereka.

Selain itu, anak-anak juga perlu berani menolak dan berkata 'tidak' saat menampilkan sinyal terbuka.

“Komitmen bersama dari semua pihak diperlukan untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak. Hanya dengan perlindungan yang kuat, hak-hak mereka sebagai penerus bangsa dapat terjamin,” tegas Meutia.

Berbagai faktor seperti kemiskinan, kurangnya wawasan, rendahnya pendidikan, dan masalah pribadi seringkali menjadi penyebab kekerasan terhadap anak.

Pelaku kekerasan biasanya memiliki masa lalu traumatis, berasal dari keluarga yang tidak harmonis, atau memiliki konflik dalam perkawinan.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat. 

Program-program pendidikan dan penyuluhan harus digalakkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan anak. Selain itu, dukungan psikologis dan sosial bagi korban kekerasan juga harus diperkuat agar mereka dapat pulih dan melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Meutia juga menekankan pentingnya pelibatan berbagai pihak dalam upaya ini. “Komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat, dan organisasi terkait diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak. Dengan perlindungan yang kuat, kami memastikan dapat hak-hak mereka sebagai penerus bangsa yang terjamin,” tuturnya.

Dengan upaya bersama dan komitmen yang kuat, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak, memastikan mereka tumbuh dan berkembang dengan baik, serta terlindungi dari segala bentuk kekerasan. (*)