Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM, ketika mengunjungi Cabang Dinas Pendidikan di kabupaten/kota untuk memberi dukungan kepada jajaran dinas, guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam meningkatkan mutu pendidikan Aceh. (Foto/Ist)
“Meski sebagian aktivitas pembelajaran dilaksanakan secara daring (online), bukan menjadi halangan bagi Dinas Pendidikan Aceh untuk terus berpacu dalam meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Aceh"
--- Kadisdik Aceh, Alhudri ---
“Berdasarkan analisis kami, menunjukan bahwa kebijakan dan arah Pendidikan Aceh yang sudah dijalankan Dinas Pendidikan bersama seluruh jajarannya sudah tepat. Alhamdulillah sudah berjalan on the track atau sesuai jalurnya,” kata Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. H. Warul Walidin AK, MA, di hadapan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs.Alhudri, MM, saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antar kedua lembaga tesebut, pada bulan Juni 2021.
Kata Warul, beberapa aspek kemajuan pendidikan bisa dilihat dari banyaknya lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta yang ada di tanah air pada tahun ini. Selain itu juga beragam prestasi yang diraih siswa dan guru pada ajang perlombaan di tingkat nasional bahkan internasional.
Warul Walidin mengatakan, berdasarkan pengamatannya, pendidikan Aceh saat ini sudah lebih baik dan sudah berjalan sesuai arah menuju pendidikan berkualitas.
UIN Ar-Raniry sendiri, menurut Warul Walidin, memiliki komitmen yang sama untuk mendukung kemajuan pendidikan Aceh. Karena itulah dia sebagai rektor UIN Ar-Raniry sepakat menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan Aceh.
Hardikda, Momentum Tingkatkan Prestasi
Provinsi Aceh kini berhasil meraih peringkat delapan untuk jumlah siswa yang lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2021. Hal itu menjadi salah satu bukti, mutu pendidikan Aceh mulai bergerak ke arah yang lebih baik.
Di momen Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-62 tahun 2021, tenaga pendidik juga diharapkan terus bersemangat dalam meningkatkan mutu pendidikan Aceh. Dengan demikian, jumlah siswa yang lulus SBMPTN tahun 2022 bisa kembali meningkat jumlahnya.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM melalui Kepala UPTD Balai Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan, Teuku Fariyal, Kamis (2/9/2021), mengatakan kepada wartawan, jika di tahun 2021 Aceh mendapat peringkat 8 secara nasional, maka pada 2022 minimum harus mampu mendapat peringkat 7 secara nasional.
"Semoga di momen Hardikda ini kita terus berpacu,” kata Teuku Fariyal atas nama Kadis Pendidikan Aceh, Alhudri.
Dia menjelaskan, pandemi COVID-19, meski sebagian aktivitas dengan sistem pembelajaran daring (online), bukan menjadi halangan bagi Dinas Pendidikan Aceh untuk terus berpacu dalam meningkatkan mutu pendidikan di provinsi paling barat Indonesia itu.
Untuk itu dia mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk orang tua para siswa dapat bersinergi meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan Aceh ke depan.
“Selain belajar di sekolah, orang tua juga bisa mengambil peran untuk mengajari anak-anaknya di rumah,” ucap Alhudri sebagaimana dikutip Teuku Fariyal.
Dia menyampaikan, keberhasilan Aceh menempati peringkat delapan jumlah lulus SBMPTN 2021 berkat kerja keras semua pihak, mulai tenaga pendidik, siswa, orang tua siswa, hingga pengambil kebijakan di tingkat pemerintahan.
“Ini keberhasilan kita semua, terutama sekali guru, keberhasilan guru karena giatnya memberi motivasi untuk anak murid kita semua,” katanya.
Bukan hanya untuk SBMPTN, kata Alhudri, pada tahun yang sama Aceh juga meraih prestasi pada tingkat kelulusan SNMPTN, di mana Aceh berada pada posisi peringkat 5 secara nasional.
LTMPT merilis, jumlah siswa dan siswi SMA dan SMK dari Provinsi Aceh yang terdaftar pada SNMPTN tahun 2021 yaitu 15.290 orang dan yang diterima 5.626 orang. Artinya, jumlah ini meningkat dari tahun 2020 yang hanya 5.132 orang.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh mengungkapkan bahwa sebagian besar sekolah di Aceh saat ini sudah menerapkan proses belajar dan mengajar tatap muka. Hal ini berlaku bagi mereka yang berada dalam zona hijau.
Sedangkan sekolah di zona merah, kata Alhudri, masih diwajibkan untuk menerapkan proses belajar mengajar secara daring atau online. Ini adalah bagian ikhtiar tenaga pendidik dan siswa dalam mencegah penularan COVID-19.
“Kita tergantung situasi COVID-19 di Aceh seperti apa. Misalnya kalau sistem kita masuk zona merah semua sekolah pasti secara online. Tetapi kalau sudah zona hijau, pasti semua sekolah bertatap muka,” tuturnya.
Pendidikan Bermartabat
Kepala Dinas Pendidikan, Alhudri, juga menyampaikan para tenaga pendidik dalam proses pembelajaran harus kreatif dan inovatif, apalagi di tengah pandemi COVID-19. Hal ini supaya para siswa dapat menyerap mata pelajaran dengan maksimal.
“Harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan model-model pembelajaran di masa pandemi COVID-19 ini. Tidak bisa disalahkan pandemi ini. Maksudnya pandemi ini bukan suatu hambatan,” katanya.

Alhudri yakin, apabila guru kreatif dalam menciptakan model-model pembelajaran yang bisa ditransferkan kepada peserta didik, maka mutu pendidikan di Tanah Rencong akan meningkat terus.
“Momen Hardikda harus dijadikan semangat untuk menuju pendidikan lebih bermartabat, bermutu, dan generasi emas di masa yang akan datang,” jelas Alhudri.
Di momen Hardikda ini juga, lanjut Alhudri, pihaknya akan terus memotivasi para guru dan siswa. Dinas Pendidikan Aceh siap memenuhi kebutuhan mereka sesuai anggaran yang ada di dinas setempat.
“Kita terus memotivasi guru, siswa walaupun di tengah pandemi dengan prestasi, (kita dukung) semua kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan sesuai anggaran yang ada di dinas pendidikan,” ucapnya.
Dengan semangat merdeka belajar, kata Alhudri, cita-cita Pemerintah Aceh dalam mewujudkan Aceh Carong bisa terwujud, di samping upaya-upaya lainnya seperti beasiswa.
“Ke depan diharapkan Aceh bisa mewujudkan dengan visi misi gubernur kita, visi misi Aceh juga yaitu menggapai Aceh Carong,” kata Alhudri.
Butuh SDM Mumpuni
Ketua Komisi VI DPRA, Tgk Irawan Abdullah mengatakan, dalam meningkatkan mutu pendidikan agar menjadi lebih baik lagi, Aceh memerlukan sumber daya manusia yang mumpuni.
“Berkaitan dengan Hardikda, bahwa kondisi pendidikan Aceh yang kita lihat sekarang ini masih banyak hal yang harus dilakukan perubahan. Terutama sumber daya manusia (SDM) dalam bidang pendidikan,” ucap Irawan Abdullah kepada Waspadaaceh.com, Selasa (31/8/2021).
Menurut Irawan, perubahan yang dilakukan harus dari hulu hingga ke hilir. Seperti pihak pelaksana Dinas Pendidikan sampai dengan guru-guru yang mengajar pada institusi lembaga pendidikan yang ada di Aceh.
Anggota DPRA Dapil Sabang, Aceh Besar dan Banda Aceh ini berharap, SDM yang ada di dunia pendidikan Aceh itu adalah betul-betul SDM yang memang mengetahui bagaimana seluk beluk dan perjalanan atau pengetahuan tentang pendidikan.
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR Aceh ini juga menuturkan, khususnya untuk guru-guru perlu diupgrade dengan berbagai macam pelatihan, pembinaan terhadap bagaimana cara dan teknis mengajar siswa dalam tantangan dunia teknologi yang semakin berkembang.
“Untuk meningkatkan mutu pendidikan di masa COVID-19 ini memang ibarat kita memakan buah simalakama. Karena kondisi pandemi yang tidak jelas kapan ujungnya. Pandemi yang membuat sistem pendidikan secara tatap muka, berubah menjadi sistem daring,” katanya.
Generasi Berkualitas Menuju Aceh Hebat
Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengungkapkan bahwa momentum Hardikda 2021 harus dimanfaatkan untuk membentuk generasi berkualitas sehingga akan mampu membawa perubahan menuju Aceh yang hebat.
“Peringatan Hardikda bukan sekedar seremoni. Peringatan ini harus jadi momentum untuk mengevaluasi diri, sejauh mana pendidikan yang kita raih sekarang ini,” ujar Nova.
Nova juga mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bergerak bersama dan memiliki tekad yang sama dalam melahirkan generasi muda yang cakap, religius, pekerja keras dan memiliki karakter ke-Acehan.
Dengan demikian, lanjut Nova, maka akan melahirkan generasi unggul untuk membuat Aceh menjadi hebat. Ia juga mengatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu program pembangunan pemerintah Aceh. (Adv)

