•   Selasa, 09 Juni 2026
Transformasi Media Aceh - Sumatera
ad-banner

Pinky Movement Layak Diadopsi Kementerian ESDM

Salah satu fasilitas SPBE di kawasan Kabupaten Toba, Sumatera Utara. (Foto/sulaiman achmad)

"Sebelumnya, peternak itu pakai gas melon 350 tabung habis setiap bulan. Nah, setelah pakai Bright Gas 5,5 Kg, peternak itu hanya menghabiskan 100 atau 150 tabung saja. Lebih hemat dan lebih efisien"

------------------

Oleh Sulaiman Achmad

Merujuk pada terjemahan Indonesia, Pinky Movement memiliki konotasi perpindahan atau migrasi ke merah muda. Ya, istilah Pinky lebih melekat pada Bright Gas 5,5 Kg berwarna merah muda yang dikenal Bright Gas Pink.

Dari tampilan warna, Bright Gas Pink ini diidentikkan dengan kaum hawa atau ibu-ibu. Dibuat menarik, agar membuat kaum ibu lebih menyukai tabung gas 5,5 Kg ini. Harganya pun relatif murah ketimbang LPG tabung 12 Kg.

Pinky Movement sendiri merupakan sebuah program milik PT Pertamina Patra Niaga yang ditujukan untuk migrasi konsumen LPG tabung gas melon 3 Kg ke Bright Gas 5,5 Kg. Program ini sudah berjalan cukup lama, dengan target pelaku usaha yang biasanya memakai gas melon, tentunya dengan insentif pinjaman lunak dari PT Pertamina Patra Niaga.

Nah, untuk Pinky Movement ini juga tidak melulu menyasar pelaku usaha UMKM saja. Program ini juga menyasar Pangkalan Gas LPG di daerah. Pangkalan didorong untuk menciptakan pasar dan menjual Bright Gas 5,5 Kg sebagai ganti penggunaan tabung gas melon.

Sebagai insentifnya, pangkalan gas akan mendapatkan pinjaman lunak modal usaha. Modal usaha itu dimanfaatkan untuk pembelian tabung, sehingga pangkalan yang dikelola menjadi lebih besar, tentu dengan omset dan margin lebih tinggi pula.

Di Sumatera, kesuksesan Pinky Movement ini salah satunya menyasar pelaku industri peternakan di Lampung seperti diceritakan Manager Small Medium Enterprise & Partnership Program (SMEPP) PT Pertamina Pusat (Persero), Rudi Arifianto, yang ditemui Trasmedia.com di Hotel Grand Aston pada pekan pertama November 2021 ini.

Rudi sendiri merupakan mantan Area Manager Communication & Relation and CSR (Comrel & CSR) PT Pertamina MOR I (kini PT Pertamina Patra Niaga Sumbagut). Pertemuan persahabatan itu berlangsung hangat, sambil diskusi antara penulis dan Rudi. Rudi sendiri memiliki latar belakang sebagai jurnalis yang kini sudah fokus di profesi barunya sebagai birokrat.

Kembali ke Lampung, di sana Rudi mendapatkan satu pangkalan yang setiap bulannya menjual lebih dari 150 tabung Bright Gas 5,5 Kg. Di balik cerita itu, ternyata pangkalan menjualnya kepada peternak ayam di sana.

"Sebelumnya, peternak itu pakai gas melon 350 tabung habis setiap bulan. Nah, setelah pakai Bright Gas 5,5 Kg, peternak itu hanya menghabiskan 100 atau 150 tabung saja. Lebih hemat dan lebih efisien," ungkap Rudi sembari menyeruput jus segar dari cangkir di sudut Coffee Shop Hotel Aston.

Lalu, 350 tabung gas melon yang tidak lagi dipakai si peternak itu, kemana? Di sini cerita uniknya, gas melon yang tidak lagi dipakai peternak, bisa dialihkan ke masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

KMP Tao Toba II yang melayani penyebarangan untuk kendaraan truk milik agen LPG di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. (foto/sulaiman achmad)

"Otomatis dong, 350 tabung gas melon itu kan bisa untuk pasar lain yakni yang membutuhkan adalah masyarakat miskin sesuai pangsa pasarnya. Tentunya, itu bisa menjadi back to basic pada fungsi dan manfaat gas melon 3 Kg," ujarnya.

Dari program itu, tentu saja, pemilik pangkalan mendapatkan pinjaman lunak dari Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) PT Pertamina untuk lebih mengembangkan usahanya. Pemilik pangkalan memanfaatkan modal itu untuk semakin menambah tabung gasnya, tentu dengan omset dan margin lebih besar.

Rudi menyakini, jika program Pinky Movement seperti di Lampung sukses berjalan di daerah lain. Maka, besar peluang, Pertamina tidak perlu lagi menambah kuota gas melon di setiap daerah. Kemudian, tidak ada lagi namanya kelangkaan gas melon, karena tepat sasaran.

Lalu, bagaimana dengan di Sumbagut. Salah satunya, ada Pinky Movement yang juga sukses yakni Warkop Mas Seno yang dikelola Dwi Retno Cahyo, di Medan Marelan, Kota Medan.

Membuka usaha sejak 2018 lalu, usaha Dwi Retno sempat jatuh saat COVID-19 menghantam Kota Medan pada Maret 2019. Usahanya tutup beberapa bulan, sampai pelan-pelan bangkit lagi dibantu dengan PKBL Pertamina Patra Niaga Sumbagut. 

Kini, Dwi Retno, melalui Pinky Movement sudah meninggalkan penggunaan gas melon. Bright Gas 5,5 Kg menjadi pilihannya berusaha hingga saat ini. Selain menjual aneka makanan yang lezat, warung ini juga menjual es boba dan kebab.

"Paling unggul itu, kebab. Setiap acara Pertamina, kini, kebab dan es boba jadi pesanan rutin Pertamina. Biasanya Pertamina pesan minimal 30 paket, untuk acara. Ya semua berkat Pinky Movement," jelasnya.

Truk milik agen LPG di Kabupaten Samosir yang bersandar di Parapat, Simalungun, Sumut. (foto/sulaiman achmad)

Dwi menilai penggunaan Bright Gas 5,5 Kg lebih efisien daripada gas melon 3 Kg. Bright Gas yang dipakainya bahkan bisa bertahan satu bulan, daripada pakai gas melon. 

Area Manager Communication & Relation and CSR (Comrel & CSR) PT Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Taufikurahman, menilai berbagai program dimiliki Pertamina untuk memberdayakan UMKM termasuk salah satunya dengan Pinky Movement ini. Hal ini sebagai bentuk komitmen Pertamina berkolaborasi dan tumbuh bersama

"Pertamina secara terus menerus dengan komitmen yang kuat untuk memperkuat inovasi bisnis atau membangun kolaborasi, baik melalui UMKM sebagai lokomotif perekonomian dan industri nasional. Ini komitmen kita untuk bangun bersama memperkuat prekonomian daerah dan nasional," jelasnya.

Dua cerita di atas merupakan kesuksesan program Pinky Movement yang mampu mendorong pelaku usaha bermigrasi dari gas melon ke Bright Gas 5,5 Kg. Untuk peternak ayam, gas digunakan untuk produktifitas ternak yakni sebagai pemanas suhu kandang, sedangkan sang pemilik warkop menggunakannya untuk memasak.

Dua sektor jasa yang berbeda yakni peternakan, perdagangan dan kuliner. Keduanya, percaya bahwa gas melon tidak lagi cocok digunakan untuk para pelaku usaha karena dampaknya bisa mengganggu distribusi yang seharusnya untuk masyarakat miskin.

Program Pinky Movement ini juga sudah mendapat berbagai penghargaan, salah satunya "Ekspo UMKM secara Daring dengan Produk Terbanyak" tahun lalu, mendapat pengakuan Rekor dari MURI. Kemudian, berbagai penghargaan lain dari lembaga independen hingga media nasional yang mengakui keberhasilan program ini.

Selain itu, setiap tahunnya SMEPP juga aktif menggelar SMEXPO virtual, terkahir digelar pada medio Oktober 2021 kemarin dengan tema Gernas Bangga Buatan Indonesia (GBBI). Nah, merujuk pada konsep Pinky Movement ini, harusnya diadopsi oleh Kementerian ESDM RI.

Program ini, harusnya diadopsi menjadi program pemerintah di bawah Kementerian ESDM yang bertujuan kampanye migrasi penggunaan gas melon menjadi Bright Gas 5,5 Kg untuk pelaku usaha. Dengan skema, Pinky Movement dijalankan Kementerian ESDM, permodalan dibantu oleh PT Pertamina. Semoga (**)

 

  • Penulis adalah wartawan Trasmedia.com
  • Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) Nasional Tahun 2021