•   Senin, 05 Oktober 2026
Transformasi Media Aceh - Sumatera
ad-banner

Sekolah Kejuruan Harus Lebih Kreatif dan Inovatif Mendorong Siswanya

Siswa jurusan tata boga SMKN 3 Banda Aceh, saat melakukan praktik. (Foto/Kia)

"Bagaimana kita mendorong siswa agar menjadi pribadi yang memiliki karakter lengkap dengan penyelesaian masalah yang akan dihadapi”

= Kepala SMKN 1 Nisam, Ismail =

Pandemi COVID-19 merupakan trauma yang melanda seluruh dunia dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, salah satunya dunia pendidikan. Kebutuhan semua siswa di seluruh belahan dunia bahkan Aceh untuk menempuh pendidikan secara maksimal cukup lama terganggu karena adanya virus yang mematikan itu.

Setelah dua tahun sekolah terancam COVID-19, kini hampir semua sekolah sudah menerapkan pembelajaran seperti biasa, yakni pembelajaran tatap muka (PTM). Pihak sekolah juga menerapkan berbagai terobosan dan langkah cepat untuk mengejar ketertinggalan pelajaran akibat COVID-19, seperti pada beberapa sekolah kejuruan, seperti Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN).

“Zaman sudah berubah, tentu sudut pandang kita juga harus berubah. Bagaimana kita mendorong agar menjadi pribadi yang memiliki karakter lengkap dengan penyelesaian masalah yang akan dihadapi,” kata Ismail, Kepala SMKN 1 Nisam, Aceh Utara, Jumat (18/11/2022).

Didampingi wakilnya Nuraini, dia menyebutkan, pihaknya selalu berusaha meng-upgrade pengetahuan guru tentang sudut pandang dalam mendidik siswa SMK, salah satunya melalui kegiatan workshop. Dengan adanya kegiatan workshop penguatan karakter berbasis mindset change kepada seluruh tenaga kependidikan dapat memberikan motivasi dalam mengevaluasi diri sekaligus mengembangkan potensi diri khususnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.

Tenaga pendidik di SMKN 1 Nisam foto bersama usai kegiatan Workshop Penguatan Karakter Berbasis Mindset (foto/ist)

Guru Jadi Pendamping Siswa

Terpisah, Kepala SMKN 3 Banda Aceh, Supriani, mengatakan, COVID-19 tidak hanya mengganggu proses pembelajaran, namun juga berpengaruh terhadap kedekatan siswa dengan guru. Hal ini sangat terlihat di awal penerapan sekolah secara tatap muka, ada jarak antara siswa dan guru.

Menurutnya, itu menjadi masalah dalam proses transfer ilmu, karena siswa tidak rileks dalam menerima ilmu yang diberikan oleh guru. Maka dari itu, pihaknya mengubah pola dengan mewajibkan setiap guru mendampingi siswa di luar jam pelajaran.

"Guru di SMKN 3 Banda Aceh berjumlah 79 orang, sementara siswa berjumlah 800 orang. Maka kita menerapkan sistem pendampingan khusus terhadap siswa. Setiap guru wajib mendampingi 10 siswa di luar jam pelajaran," jelasnya.

Pendampingan itu bisa dilakukan dalam kelas maupun di pondok-pondok sekolah. Dalam Pendampingan ataupun pembinaan ini, lanjut Supriani, tidak diajarkan teori, namun lebih ke grooming-nya, sopan santun dan akhlak siswa.

Dia menilai, program ini berjalan dengan lancar, dan beberapa sekolah maupun guru yang berkunjung ke SMKN 3 terinspirasi dengan program pendampingan itu.

"Komite sekolah sempat menanyakan kemarin, kenapa siswa berada di pondok saat jam pelajaran. Namun setelah saya jelaskan bahwa ada pendampingan siswa, dia mendukung dan malah mempromosikan program ini ke sekolah yang lain," jelasnya.

Supriani sendiri mengakui, membangun hubungan emosional dengan siswa adalah hal utama yang harus diperhatikan. Apabila tidak ada kedekatan siswa dan guru maka dapat dipastikan transfer ilmu tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Sementara, untuk mendongkrak sebuah pendidikan diperlukan kerja sama dari semua elemen, termasuk kerja sama antara siswa dan guru.

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)

Selain menerapkan pendampingan khusus terhadap siswa, SMKN 3 Banda Aceh juga menerapkan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Gerakan ini dilakukan seminggu sekali yaitu setiap Sabtu.

"Para guru dan siswa bebas memakai baju. Pagi dimulai dengan senam, gotong royong, belajar di luar seperti keliling museum silahkan," jelasnya.

Namun demikian perlu diingat, meski dikatakan sebagai hari bebas, siswa masih tetap dalam pendampingan guru mata pelajaran. Guru mata pelajaran juga diwajibkan untuk membuat projek sebelum melakukan kegiatan di hari GMS.

Tujuannya, lanjut Supriani, agar siswa dan guru tidak jenuh akibat pembelajaran yang hampir dilakukan fullday. Dia mengakui dengan menerapkan beberapa program itu, cukup banyak peningkatan prestasi di SMKN 3 Banda Aceh dalam tahun 2022.

"Seperti perlombaan film dokumenter sudah di tingkat nasional dan beberapa prestasi lainnya. Intinya sudah ada kemajuan untuk mengikuti lomba-lomba, walaupun ada menang kalah yang penting sudah mencoba," tuturnya.

Disdik Terus Benahi Sarana dan Prasarana 

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh melalui Kepala Bidang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Asbaruddin menyebutkan, Disdik Aceh terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di Aceh.

Kepala Bidang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dinas Pendidikan Aceh, Asbaruddin. (Foto/Ist)

Keseriusan itu lanjut, Asbaruddin ditandai dengan adanya pembenahan sarana, prasarana, hingga menghadirkan guru-guru yang kompeten pada bidang masing-masing. Hal ini guna mewujudkan generasi unggul dan berprestasi.

Di samping itu, Asbaruddin juga mengharapkan agar alumni dari SMK di Aceh mampu bekerja secara mandiri, baik itu di dunia usaha maupun industri. 

"Industri di Aceh masih kurang, hanya 5 persen. Sementara peluang di dunia kewirausahaan sangat besar yaitu mencapai 95 persen," sebutnya.

Melihat peluang kerja tamatan SMK sangat tinggi, pihaknya terus mempersiapkan guru-guru yang kompeten yang mampu mendidik siswa berwirausaha maupun industri aga mampu menghasilkan produk yang berbasis barang maupun jasa. (Adv)